Bab 13 Menunjukkan Kemampuan Diri

by Glen Valora 17:06,May 18,2021
“Vindy, perhatikan mulutmu. Sekarang kamu bahkan sudah berani mengatakan hal-hal tidak senonoh seperti itu.” Kak Dhini jelas kesal dengan kata-kata wanita muda itu. Wajahnya memuram.

"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Kak Dhini, aku telah mendengar banyak gosip tentang kamu akhir-akhir ini. Aku mengatakan semua ini padamu karena aku menganggapmu sebagai teman. Kalau orang lain, aku tidak akan mepedulikannya."

Dapat dilihat bahwa status para wanita muda ini tidak lebih rendah dari Kak Dhini.

"Kak Vindy, tidak masalah kalau kamu tidak memahami pekerjaan aku, tetapi aku harap kamu jangan memfitnah Kak Dhini. Jika kamu tidak mempercayai aku, aku boleh memijat kamu agar kamu bisa mengetahui efeknya sendiri."

Melihat raut muka Kak Dhini tampak suram, kelihatan nyaris meledak, aku segera melangkah maju, berkata pada Vindy dengan sikap yang tidak merendahkan maupun meninggikan diri.

Aku bukan mau mencari perhatian. Kak Dhini telah membantuku berkali-kali. Sebagai pria, aku tidak boleh selalu bersembunyi di belakangnya seperti pengecut.

"Kamu itu apaan? Beraninya kamu berbicara dengan cara seperti itu di hadapanku. Kamu kira tubuhku bisa disentuh siapa pun?"

Jelas sekali bahwa orang-orang kelas atas seperti mereka bakal memandang rendah orang-orang kelas bawah ataupun menengah seperti aku. Ekspresi hina yang terpasang di wajahnya membuatku merasa jijik.

“Kak Dhini, aku lihat kulit kamu agak kasar, kantung mata lumayan besar, lidah tampak kuning. Itu adalah pertanda kelemahan fisik. aku menduga kamu mungkin mengalami insomnia dan lidah selalu terasa kering, benar?”

Ketika aku mengatakan itu, pandangan para wanita terhadapku agak berubah. Vindy terkejut dan sedikit malu ketika aku menyebutkan masalah kesehatannya.

"Kenapa kamu tahu semua itu? Kamu bisa keterampilan medis?"

"Meskipun aku hanya seorang tukang pijat, tapi aku mewarisi teknik dari leluhur aku. aku mengkhususkan diri pada pengobatan beberapa gejala tubuh dengan memijat titik meridian di tubuh manusia. aku masih cukup mampu untuk melihat gejala yang jelas seperti itu."

Faktanya, aku tidak hanya tahu cara memijat. Nenek moyangku fokus mempelajari titik-titik meridian pada tubuh manusia. Mereka tidak hanya mengembangkan serangkaian teknik pijat, tetapi juga ada metode akupuntur yang memanfaatkan titik meridian manusia untuk mengobati penyakit. Jadi, aku lumayan paham tentang cara melihat gejala-gejala penyakit di tubuh.

"Heh, jangan mengada-ada. Siapa pun yang punya mata tahu bahwa aku kelihatan tidak sehat akhir-akhir ini."

Vindy mendengus pelan. Dia tetap merendahkan aku. Sikapnya yang selalu membenarkan diri benar-benar membuatku jijik.

"Baik aku mengada-ada maupun tidak, bukankah Kak Vindy akan tahu segera setelah mencobanya sendiri? Apakah kamu takut pemijatan aku benar-benar berefek, sehingga kata-kata kamu akan terbukti salah?"

"Kamu! Cobalah! Kalau kamu tidak bisa memuaskanku, bersiap-siap untuk masuk penjara!"

Karena terangsang oleh kata-kataku, Vindy sangat marah sehingga dia benar-benar setuju untuk membiarkan aku memijatnya.

Di dalam ruangan ini terdapat ruang kecil yang bisa digunakan tamu untuk beristirahat. Ada pula tempat tidur yang nyaman dan empuk di dalam ruang kecil itu.

"Kak Dhini, apakah kamu tidak mau membela bocah ini? Vindy bukan orang yang gampang dihadapi."

Aku berjalan di barisan terdepan. Terdengar seorang wanita muda di belakang berbicara dengan lembut kepada Kak Dhini. Aku segera menajamkan telingaku karena aku mau tahu jawaban Kak Dhini.

"Aku percaya padanya."

Kalimat sederhana itu terisi penuh dengan kepercayaannya padaku. Sudut mulutku terangkat tanpa sadar. Aku semakin percaya diri.

Karena ditonton begitu banyak orang, aku pun merasa tidak enak untuk menyuruh Vindy melepas pakaiannya. Aku hanya bisa memijatnya dengan dialasi pakaian. Untung sekali bahwa bahan pakaian yang dikenakannya tipis dan teksturnya terasa enak, sehingga tidak terlalu mempengaruhi proses pemijatan.

Aku tidak berani menyentuh titik meridian yang sensitif di tubuhnya. Bagaimanapun, teknik berprivasi tinggi seperti itu tidak cocok untuk digunakan sekarang. Walau ada banyak halangan dan batasan, aku tetap dapat memberinya pengalaman indah melalui pemijatan terhadap titik-titik meridian di leher dan kaki.

Aku mencuci tangan sebelum menyentuh kaki halusnya.

Sebenarnya, kondisi tubuh dan kulit Vindy sangat bagus. Namun, setelah melihat kesempurnaan dari tubuh Kak Dhini dan Vina, aku pun tidak punya perasaan apa pun terhadap penampilannya.

Pijatan pertama dilakukan pada titik garis engkel kaki yang terletak tiga inci di atas ujung maleolus medial dan tepi posterior tibia. Ini adalah titik sensitif mayoritas orang. Tak disangka, ketika aku memijat titik tersebut, Vindy tidak bereaksi sama sekali.

Aku mengernyit. Apakah pijatanku terlalu ringan?

Sambil memikirkan penyebabnya, aku perlahan meningkatkan kekuatan di tangan. Tepat ketika aku hendak berhenti memijat titik meridian ini, seluruh tubuh Vindy bergidik. Dia juga mengeluarkan erangan dari rongga hidung.

Awalnya aku kira aku salah dengar, tapi kemudian aku mendengar napasnya menjadi semakin berat dan berantakan. Aku tersenyum tipis.

Sepertinya bukan dia tidak sensitif, tetapi dia berusaha menahan reaksi alami dari tubuhnya sendiri.

"Berhenti... Berhenti... Aku, aku tidak mau dipijat lagi!"

Tepat ketika aku hendak memijat titik sensitif berikutnya, Vindy tiba-tiba berteriak dengan suara parau.

Aku menghentikan gerakan di tanganku dengan patuh, mundur selangkah, menunggu Vindy bangun dari tempat tidur.

"Kak Vindy, apakah kamu puas dengan pijatan aku?"

Melihat pipi Vindy yang memerah, aku tahu bahwa efek yang kuinginkan telah tercapai. Aku menatapnya sambil tersenyum.

"Kamu memang punya kemampuan, aku telah meremehkanmu. Aku... aku agak kebelet. Aku mau pergi ke kamar mandi dulu."

Vindy menatapku dengan malu, lalu sengaja mengalihkan topik dan berhenti mengolok-olok aku.

Melihatnya berjalan dengan cara yang aneh, aku tersenyum. Sepertinya Vindy lebih sensitif daripada yang aku kira.

"Gaga, kamu melakukannya dengan sangat bagus."

Ketika Kak Dhini melewati aku, suaranya yang mengandung senyuman merambat masuk ke telingaku.

Reaksi Vindy telah dilihat oleh semua wanita muda lainnya. Sikap mereka terhadap aku berubah banyak. Saat perjamuan, mereka bahkan menyatakan bahwa mereka ingin dipijat aku juga.

Aku tentu bersedia menerima bisnis yang datang dengan sendirinya. Bagaimanapun, mereka semua adalah orang kaya.

"Kak Dhini, maaf. Tadi aku telah mengatakan banyak hal yang membuatmu marah, aku harap kamu jangan mengambil hati.”

Selesai membersihkan diri, Vindy pun kembali ke meja makan. Dia mengangkat segelas anggur merah, berkata kepada Kak Dhini dengan ekspresi minta maaf.

"Tidak apa-apa. Kepribadianmu memang seperti itu. Aku mengerti."

Dari nada suara Kak Dhini, aku tidak bisa menebak emosinya. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar memaafkan Vindy atau hanya berdamai di muka. Di dunia orang kaya, tidak ada teman sejati, juga tidak ada musuh sejati. Yang ada hanyalah keuntungan sejati.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

365