Bab 12 Pertemuan Antar Wanita

by Glen Valora 17:06,May 18,2021
Dari luar, Guru Ismad seakan-akan berdiri di pihak Manshur. Sebenarnya, dia juga menyindir Manshur secara bersamaan. Bagaimana mungkin Manshur, yang selalu dihormati, mau menerima penghinaan seperti itu? Jadi, Manshur pun langsung melakukan serangan balik tanpa ragu-ragu.

"Dasar tidak tahu berterima kasih. Posisimu akan segera direbut muridmu. Apa yang kamu sombongkan!"

Guru Ismad dibuat sangat marah oleh kata-kata Manshur. Setelah meninggalkan kalimat itu dengan marah, dia pergi dengan ekspresi tidak senang.

"Guru……"

"Jangan panggil aku guru. Aku sudah bilang bahwa aku tidak punya murid sepertimu yang bergantung pada wanita untuk mencari nafkah."

Aku kira kata-kata Manshur barusan bermaksud untuk membela aku. Begitu aku mau mengucapkan terima kasih, dia malah memotong aku tanpa menaruh sedikit pun belas kasihan.

Melihat sosok Manshur yang pergi dengan penuh emosi, aku merasa amat kesal. Ternyata tidak hanya orang lain yang tidak percaya padaku, tapi bahkan guruku sendiri pun menghinaku.

Setelah melayani Vina untuk waktu yang lama, tubuhku sudah kelelahan. Tapi aku malah harus menanggung penghinaan dari rekan-rekan di clubhouse lagi. Aku pulang kerja lebih awal, pulang ke rumah, tidur sepanjang malam.

Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh dering telepon. Aku mengulurkan tangan dari dalam selimut, mencari-cari ponsel di atas meja, mengangkatnya dengan keadaan yang masih mengantuk.

"Halo……"

"Gaga, kamu bersiap-siap sekarang juga. Aku akan menjemputmu jam 12:30. Temani aku makan siang."

Suara wanita yang familiar terdengar dari ponsel. Aku yang masih mengantuk tidak tahu siapa itu.

"Siapa kamu……"

Mataku masih setengah tertutup. Ketika aku hendak bertanya siapa dirinya, telepon sudah dimatikan.

"Aneh sekali. Kenapa ada wanita yang mengajakku makan bareng di pagi-pagi hari ini."

Aku melempar ponsel ke tempat tidur, mengeluh dengan suara kecil, menarik selimut dan kembali tidur dengan kepala tertutup.

"Astaga! Kak Dhini yang mengajakku untuk makan bareng!"

Tidak lama setelah aku berbaring kembali, aku tiba-tiba menyadari siapa penelepon itu. Aku seperti tersambar petir, langsung melompat dari tempat tidur.

Aku mengambil ponsel dan menemukan bahwa sekarang sudah pukul 11. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Meskipun aku tidak tahu mengapa Kak Dhini mengajakku untuk makan bareng, tapi karena dia sudah meneleponku, aku pun tidak punya alasan untuk menolak. Jadi, aku pun menerimanya begitu saja.

Aku berdandan di depan cermin untuk waktu yang lama, kemudian memilih pakaian yang modis. Tujuanku adalah untuk memberi kesan yang baik kepada Kak Dhini.

Segera setelah pukul 12.30, klakson mobil terdengar dari lantai bawah.

"Kenapa kamu begitu terburu-buru? Lihat, kamu terengah-engah."

Hal yang mengejutkan aku adalah Kak Dhini biasanya diantar jemput oleh sopir, tapi dia menyetir sendiri hari ini. Melihatku berlari turun dari lantai atas, dia menasihatiku dengan penuh perhatian. Aku agak tersanjung.

"Aku takut Kak Dhini menunggu terlalu lama. Setelah mendengar klakson kamu, aku pun langsung turun."

Aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba memperlakukanku dengan begitu baik. Jadi, aku hanya bisa menjawab dengan jujur.

"Hehe, mulutmu selalu begitu manis."

Kak Dhini terkekeh beberapa kali, kemudian berkata dengan santai.

"Aku mendengar Nana bilang bahwa kamu amat memuaskannya kemarin. Kamu membiarkannya mengalami perasaan yang belum pernah dia alami sebelumnya. Kapan kamu mau bantu aku juga?"

Melihat wajah Kak Dhini yang cantik seperti bunga, aku menelan ludah. Aku tidak tahu apa niatnya.

"Kak Vina adalah tamu yang diperkenalkan Kak Dhini. Selain itu, kamu juga telah meminta aku untuk melayaninya dengan baik. aku tidak berani ceroboh. Kalau Kak Dhini juga mau merasakan pengalaman seperti itu, aku selalu siap. kamu boleh panggil aku kapan pun."

"Dasar, kamu amat beretika. Dilihat dari sikapmu, aku pun tahu bahwa usahaku mempromosikan tidak sia-sia. Saat makan nanti, akan ada banyak wanita muda seperti aku dan Nana. Aku sudah memberimu kesempatan. Kamu harus menggunakannya dengan baik."

Kak Dhini sangat puas dengan jawabanku. Dia tersenyum dan mengangguk, lalu memberitahuku tujuan perjamuan kali ini, yaitu memperkenalkan aku kepada teman-temannya.

"Terima kasih, Kak Dhini. aku tidak akan mengecewakan kamu!"

Aku menatap Kak Dhini dengan tatapan penuh keyakinan, lalu menepuk dada untuk meyakinkannya.

Kami mengobrol dengan gembira di sepanjang jalan. Tidak lama kemudian, kami tiba di depan pintu hotel bintang lima di wilayah orang kaya.

Di bawah panduan pramusaji, belok kiri dan kanan, kami masuk ke dalam sebuah ruangan besar.

Ini adalah pertama kalinya aku datang ke tempat semacam ini. Jadi, wajar saja bahwa aku akan melingak-linguk ke sekeliling dengan penasaran. Ruangan ini didekorasi dengan sangat indah dan mewah, seperti istana kerajaan Eropa.

"Kak Dhini, kamu akhirnya datang. Kamu selalu datang paling akhir. Aku rasa kamu seharusnya memberi kompensasi kepada kami semua?"

Saat aku tenggelam dalam dekorasi yang indah, terdengar suara manis dari kejauhan. Aku menoleh ke belakang, terlihat seorang wanita muda yang cantik. Tubuhnya yang montok dibungkus gaun kuning muda. Dia berjalan ke arah kami.

Di sofa kulit tidak jauh di belakangnya, ada empat atau lima wanita muda cantik lainnya yang berpakaian anggun.

"Ini hadiahku sebagai tanda permintaan maaf."

Kak Dhini memandangi wanita muda itu sambil tersenyum, lalu mendorongku dengan ringan. Aku terdorong ke arah wanita muda itu.

"Kakak, kamu terlalu tidak ikhlas. Walau kamu mau menghadiahkan pria kepada kami, kamu juga harus bawa lebih. Kami ada begitu banyak orang, takutnya bocah ini tidak tahan."

Mata persik yang indah dari wanita muda itu memandangiku sejenak. Kemudian dia tertawa kecil, tangan menutupi mulut.

"Kamu memandangku sebagai orang seperti apa? Mungkinkah aku melakukan hal-hal tidak senonoh seperti menghadiahkan pria?"

Kak Dhini memelototi wanita muda itu dengan marah, kemudian membawaku ke sofa.

Melihat Kak Dhini mendekat, wanita lainnya bangkit dan menyapanya.

"Hei, kalau begitu, kenapa kamu membawa pria ini ke sini?"

Wanita muda bergaun kuning tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang sengaja dipancing oleh Kak Dhini. Dia langsung bertanya.

"Bukankah kalian selalu penasaran, kenapa akhir-akhir ini aku dan Nana terlihat lebih energik, postur tubuh kami juga terlihat lebih mantap? Dia adalah jawabannya."

Kak Dhini memandangi wanita muda itu sambil tersenyum, menyesap secangkir teh di atas meja.

"Astaga, kakak, apakah kamu benar-benar mengkhianati Direktur dan berhubungan dengan pria ini? Kalau Direktur tahu, dia bakal membunuhmu!"

Perkataan wanita muda itu membuat Kak Dhini langsung menyemburkan teh yang hampir ditelannya. Dia memutar mata dengan tak berdaya, kemudian mengeluarkan saputangan untuk menyeka air dari sudut mulut, lalu berbicara dengan pelan.

"Siapa bilang wanita harus berhubungan intim dengan pria untuk mendapatkan raut muka yang bagus dan postur tubuh yang mantap? Aku dan Nana cuma menikmati layanan pijatnya beberapa kali."

"Kak Dhini, jangan menipu kami. Bukankah sebelumnya kamu juga sering pergi ke klub untuk pijat, kenapa dulunya kamu tidak mendapatkan manfaat ajaib seperti itu. Aku sarankan kamu sebaiknya berhati-hati. Jangan sampai kedapatan oleh Direktur. Kalau tidak, bocah ini bakal celaka juga."

Jelas sekali, wanita-wanita ini tidak mempercayai kata-kata Kak Dhini. Pandangan mereka terhadapku juga mengandung hinaan. Mereka mungkin juga memandang aku sebagai pria yang mengandalkan wanita untuk mencari nafkah.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

365