Bab 9 Pelanggan Tetap Lainnya

by Glen Valora 17:06,May 18,2021
"Kak Dhini..."

Aku memandang wajah Kak Dhini yang murung dan sekujur tubuh bergetar karena marah, dalam hati merasa sangat bersalah. Karena kesalahanku, merebut pertama kali miliknya, baru kemudian menyebabkan hasil yang seperti sekarang ini.

"Tutup mulutmu, kedepannya tidak akan ada yang mencari masalah denganmu. Lakukan pekerjaanmu dengan baik."

Sikap Kak Dhini terhadapku sangat acuh tak acuh, hatiku bergetar, dengan patuh menutup mulut dan berdiri di samping.

“Agung, aku sudah mengatakan bahwa kedepannya aku yang akan bertanggungjawab atas Gaga, tetapi hari ini tampaknya, kamu tidak menganggap perkataanku sama sekali.” Nada ancaman ini membuat Bos Agung berkeringat dingin dan menggigil, kemudian berjalan dengan lamban ke sisi Kak Dhini, dan baru saja hendak membela diri, tiba-tiba terdengar sebuah tamparan.

"Ini adalah yang pertama dan terakhir kali. Jika ada yang berani bertindak pada Gaga, menurutku, posisimu sebagai bos juga tidak diperlukan lagi."

Setelah meninggalkan kalimat seperti itu dengan dingin, Kak Dhini juga melangkah pergi dengan kedua pengawalnya.

Aku melihat kepalan tangan Bos Agung dan bekas telapak tangan di wajahnya, dalam hatiku mencibir. Memang benar, orang baik selalu ditindas.

Bos Agung yang selalu bersikap arogan di depan kami, di depan orang-orang besar seperti Kak Dhini, juga seperti seekor anjing yang disambungkan ekor.

"Gaga, aku minta maaf tentang insiden barusan, aku juga dipaksa dan tidak berdaya. Kamu harus tahu, jika aku tidak memotong tanganmu, maka akan melibatkan seluruh klub. Kamu orang besar berhati besar, jadi jangan mempermasalahkannya denganku. "

Aku sangat mengagumi kecepatan Bos Agung mengubah wajahnya. Detik terakhir telah mencapai titik kritis ledakan, dan detik berikutnya dia dapat berbicara kepadaku dan tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.

Karena dia tidak berniat memusuhiku, maka aku tidak perlu menyinggung perasaannya secara langsung.

"Bos Agung, aku tahu kesulitanmu, dan aku tidak menyalahkanmu. Untungnya, kamu barusan menunjukkan belas kasihan dan tidak benar-benar ingin melumpuhkan tanganku. Kedepannya aku masih berharap Bos Agung, kamu bisa menjagaku dengan baik.

Bos Agung tersedak dengan kalimat ini, kemudian tertawa dua kali dengan canggung. Lalu secara acak mencari alasan untuk pergi dengan tergesa-gesa.

Meskipun sudah waktunya untuk bekerja, tapi bagiku sudah tidak perlu lagi untuk tetap tinggal, aku langsung pulang, melihat punggungku yang memar melalui cermin di kamar mandi, hatiku merasakan kebencian. Tanda di leher mengingatkanku bahwa Direktur Merkel benar-benar berniat membunuhku hari ini.

Untungnya, meskipun tubuhku penuh dengan bekas luka, tetapi semuanya hanya luka lecet. Selain rasa sakit yang hebat di punggungku, sisanya tidak begitu serius. Aku segera membersihkan diri dan berbaring di tempat tidur.

"Gaga, Nona Tandyo datang ke toko secara pribadi memilihmu hari ini, kamu segera bersiap-siap!"

Karena cedera, di keesokan harinya, aku terlambat satu jam lebih baru berangkat kerja. Tidak diduga, setelah mengganti pakaianku, Bos Agung datang mencari dengan wajah penuh semangat.

Aku tidak menyangka Vina akan datang ke klub secara pribadi hari ini. Tertegun sejenak, bergegas membawa barang-barang ke ruang kamar VIP, melihat Vina sudah menunggu di dalam.

Mungkin karena alasan kepuasan, hari ini wajah Vina lebih kemerahan. Wajah kecil yang halus itu sedikit tertutup dengan warna merah jambu dan putih, dibandingkan dengan wajah polos saat pertama kali bertemu, hari ini dia bahkan lebih mempesona, dan membuat tidak bisa berpaling.

"Apa yang kamu lakukan di sana dengan linglung? Kenapa tidak segera kemari?"

Mataku terlalu panas, Vina menjadi malu-malu oleh tatapanku, kemudian memelototiku dengan marah.

“Maaf, Kak Vina, kamu sangat cantik hari ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terpesona.” Aku menggaruk kepalaku dengan segan, dan tersenyum malu-malu.

“Oh? Jadi kamu mengatakan, saat pertama kali melihatku, aku tidak cantik?” Vina jelas-jelas memanfaatkan celah diriku, menatapku dengan licik, sudut mulutnya tersenyum puas.

Tidaklah berlebihan jika menggambarkan Vina adalah wanita cantik yang memiliki senyuman indah dan mempesona, senyuman yang begitu tenang, membuatku benar-benar bereaksi.

“Kak Vina, berhentilah menggodaku. Kita langsung ke intinya. Layanan seperti apa yang kamu inginkan hari ini?” Aku segera berpaling dan bersiap untuk memberi pijatan kepada Vina.

"Sama seperti yang terakhir kali, teknik pijatan tanganmu memang berbeda dari yang lain."

Setelah Vina selesai berbicara, dia langsung mulai membuka baju tepat di depanku.

Aku sangat terkejut olehnya, tidak disangka Vina yang awalnya memintaku menutup mata saat memijatnya, hari ini akan begitu lugas

Saat pakaian sudah dilepas, tubuh sempurna Vina mulai terpampang di depan mataku sedikit demi sedikit. Meski mataku terakhir kali telah menikmati berkah, tetapi setelah melihatnya lagi, aku masih belum bisa mengendalikan nafsu di hatiku.

Aku hanya merasa seperti api di perut bagian bawah, sangat panas.

Setelah beberapa saat, Vina berdiri telanjang di depanku. Dia tampak sangat puas dengan reaksiku, matanya memandang di sekeliling tenda kecil yang telah aku dirikan, wajahnya tersenyum menawan. "Aku ingat seseorang mengatakan bahwa dia memiliki etika profesional, tetapi melihat dia yang seperti ini, tampaknya dia bukan seorang pria sejati?"

Mendengarkan kata-kata lucu Vina, aku hanya bisa tersipu. Menundukkan kepalanya dengan panik dan menjawab dengan suara tergesa-gesa. "Kak Vina, jangan mengejekku, kamu yang seperti ini tampak seperti peri yang turun ke bumi, siapapun asalkan seorang pria, pasti tidak akan tahan dengan godaan."

Setelah mendengar apa yang aku katakan, Vina tertawa, depan dadanya naik turun beriringan dengan suara tawa, membuatku terpesona untuk sementara waktu.

Tidak bisa, jika begini terus, aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali untuk memijatnya. Setelah memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, aku dengan cepat menenangkan hatiku yang panas. Saat membuka mata lagi, mataku sudah jernih.

“Kak Vina, mau bersihkan dulu atau langsung keintinya?” Aku berkata sambil mencuci kedua tangan. Lagi pula, aku ingin memijat para tamu dengan minyak, jadi aku harus membuat kedua tanganku tetap bersih.

“Langsung ke inti. Setelah pijatan terakhir kali, migrainku benar-benar membaik.” Vina melihat aku bisa menyesuaikan emosi dengan begitu cepat, tatapan mata mengejek saat melihatku sudah menghilang. Dengan sadar berbaring di atas meja pijat, menungguku layananku.

Aku diam-diam menghela nafas lega di dalam hatiku. Untungnya, diriku tidak melakukan sesuatu yang melewati batas dan menekan nafsuku, kalau tidak, aku benar-benar tidak tahu apa konsekuensinya nanti.

Aku mengeluarkan minyak esensial lavender yang mahal dari kotak kecil, pertama-tama mengoleskannya di jari tanganku, lalu memijatnya di pelipis Vina.

Karena Vina menekankan bahwa dia menderita migrain, lavender memiliki efek menenangkan dan sedikit membantu terhadap masalah migrain. Setelah minyak esensial di pelipis hampir terserap, aku menggosok tanganku lagi dan mulai memijat titik akupunktur di kepala Vina.

Ada banyak titik akupunktur di kepala, dan posisi pijatan yang berbeda akan memiliki efek yang berbeda pula. Dan memijat titik akupunktur di kepala bisa membuat orang rileks sepenuhnya. Ini memiliki peran yang sangat baik dalam melakukan pijatan klimaks untuk Vina setelahnya.

Unduh App untuk lanjut membaca

Daftar Isi

365